Kamis, 27 Maret 2014

Sainstek

Kontroversi Anti-Nikah Gay, Bos Mozilla Akhirnya Lengser


 Kepala Eksekutif Perusahaan (CEO) Mozilla, Brendan Eich
Kepala Eksekutif Perusahaan (CEO) Mozilla, Brendan Eich (Omicrono.com)

 
VIVAnews - Setelah mendapat kecaman dari masyarakat, Kepala Eksekutif Perusahaan (CEO) Mozilla, Brendan Eich akhirnya menyerah. Ia mundur dari kursi eksekutif perusahaan.

Sesuatu

Inilah Para Pemenang Penghargaan Panasonic Gobel Awards Ke-17

Metrotvnews.com, Jakarta: Malam penganugerahan Panasonic Gobel Awards ke-17 yang berlangsung di Cendrawasih Room, Sabtu (5/4/2014) telah berakhir. Perhelatan besar yang diselenggarakan untuk memberi apresiasi kepada insan pertelevisian Indonesia ini telah mengumumkan penghargaan kepada

Ada-ada saja

FOTO: Reaksi Suku Amazon Saat Kali Pertama Lihat Pesawat

 Anggota suku Indian di pedalaman hutan Amazon mengacungkan tombak ke arah pesawat yang melintas di atas wilayah mereka, Selasa (25/3/2014).

 

 VIVAnews -Hutan hujan Amazon di Brasil seluas lebih dari 5,5 juta kilometer menyimpan sejuta misteri. Ini termasuk suku-suku pedalaman yang sama sekali belum tersentuh peradaban modern.

Salah satunya yang berhasil ditangkap kamera ahli antropologi dari atas pesawat, seperti yang diberitakan Reuters. Dalam foto, tertangkap jelas reaksi ketakutan dan merasa terancam dari suku terasing ini saat

Showbiz

1 Miliar Orang Diperkirakan Meninggal akibat Rokok di Abad 21

1 Miliar Orang Diperkirakan Meninggal akibat Rokok di Abad 21  
Dalam sebuah konferensi di Istanbul, Turki, Rabu (26/3/2014), para pakar memberikan peringatan kepada para perokok di Eropa dengan meluncurkan peraturan yang mencegah penggunaan produk tembakau.
Lebih dari 400 pakar, akademisi, dan anggota organisasi masyarakat sipil dari seluruh

Indonesian Idol

 Sarah Terpaksa Angkat Koper dari Indonesian Idol 2014


Sarah  
 
JAKARTA - Setelah dua kali berada di posisi terendah, akhirnya Maesarah Nur (Sarah) terpaksa harus angkat koper dari panggung Indonesian Idol malam ini. Ia menjadi satu-satunya kontestan yang

Health

Mengapa Pria Sebaiknya Menikah pada Usia 25, Wanita 21?




KOMPAS.com – Menikah berarti siap menjadi orangtua tidak sekadar 1-2 tahun, tetapi seumur hidup. Karenanya, untuk menghadapi kondisi tersebut, seseorang memerlukan

Lifestyle

Beasiswa Presidential Scholarship Diluncurkan

 Beasiswa.
   Google+
VIVAnews - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono hari ini Rabu 2 Maret 2014 meluncurkan Presidential Scholarship, yaitu program beasiswa atas inisiatif  yang diberikan

Tahukah anda

EQ dan Tingkat Stres
 
KECERDASAN emosional (EQ) pria cenderung menurun ketika ia mengalami stres. Hal sebaliknya justru terjadi pada perempuan. Demikian kesimpulan peneliti Universitas Vienna, Italia, Claus Lamm.

Pemimpin penelitian, Giorgia Silani, mengatakan pihaknya melakukan pengamatan dengan meminta partisipan berbicara di depan umum dan menyelesaikan tugas aritmetika mental. Para peserta lalu diminta meniru gerakan tertentu, mengenali emosi orang lain, atau meniru sudut pandang orang lain. "Dari apa yang kami observasi, ternyata stres memperburuk kinerja laki-laki dalam tiga jenis tugas. Hal sebaliknya berlaku pada perempuan," ujar Silani.

EQ berpengaruh pada tindakan simpati dan empati terhadap orang lain. Ketika EQ itu terganggu, interaksi sosial pun memburuk. Laporan penelitian itu dipublikasi lewat jurnal Psychoneuroendocrinology. (MI/U1)


 http://lampost.co/berita/eq-dan-tingkat-stres




Legislatif dan Keluarga


SEBUAH penelitian di Amerika Serikat menyimpulkan para anggota legislatif sebaiknya membuat undang-undang yang membantu persoalan keutuhan keluarga. Demikian kesimpulan penelitian yang digelar Dewan Kebijakan Keluarga Florida berdasarkan wawancara terhadap para orang tua di negara

Oase

Memaafkan adalah Keteladanan

Josephus Primus Pasangan Suroto dan Elizabeth Diana yang memaafkan dua tersangka pembunuh anak semata wayang mereka Ade Sara Angelina Suroto menjadi inspirasi banyak orang.

KOMPAS.com - "Saya punya anak juga. Kalau anak saya disenggol orang, saya marah sekali," begitu pengakuan musisi Piyu sapaan akrab pemilik nama komplet Satriyo Yudi Wahono saat memberikan kesan ihwal kasus pembunuhan yang menewaskan seorang mahasiswi Universitas Bunda Mulia (UBM) Ade Sara Angelina Suroto, pada 4 Maret 2014 lalu.

Namun demikian, bukan perkara maupun kedua pelaku pembunuhan Ahmad Imam Al Hafitd alias Hafiz dan Assyifa Ramadhani Sulaiman alias Syifa yang tega membunuh rekan sebayanya hanya karena alasan sepele. Kasus yang menjadi pembicaraan banyak kalangan itu makin mengemuka lantaran sikap terkesan berlawanan arah dari kelaziman kedua orang tua Ade Sara, Suroto dan Elizabeth Diana. Bukannya mengecam penuh amarah dan dendam, kedua orang tua itu justru memaafkan kedua pelaku.

Karuan saja, sikap yang amat langka seperti itu menuai banyak pujian. Mari menyimak catatan salah seorang penulis di laman Kompasiana, Tri Hatmoko. Sikap memaafkan,  dalam pandangan Tri Hatmoko adalah jalan sepi. Artinya, boleh jadi, tak banyak orang yang berani mengambil jalan seperti itu.

Tri Hatmoko mengatakan juga dalam tulisannya kalau jalan sepi itu ternyata berujung terang. Jalan iman akan kehidupan kekal.

Budi Prasetyo/Tribunnews.com Orang tua Sara Angelina korban pembunhan rekan se-kampusnya Suroto dan istrinya Elizabeth (kiri) bersama Direktur Utama Direktur Utama PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk Irwan Hidayat saaat menghadiri peluncuran iklan terbaru Tolak Angin.
 
 
Memaafkan adalah keteladanan. Begitu komentar Presiden Direktur PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk Irwan Hidayat yang pada Rabu (19/3/2014) menggelar diskusi terbatas bertema "memaafkan" untuk calon iklan layanan masyarakat produk Tolak Angin. Dalam kesempatan itu, Suroto dan Elizabeth Diana menjadi bintang iklannya. "Kok bisa ya mengampuni," kata Irwan Hidayat yang dalam kesempatan itu didampingi pula oleh budayawan Arswendo Atmowiloto.

Sejatinya, tayangan berdurasi sekitar 15 detik itu berisi potongan video pemakaman Ade Sara. Selain acara tabur bunga, ada juga video saat peti jenazah dimasukkan ke  liang kubur. Lagu "Saat Terakhir" dari grup band ST12 menjadi ilustrasi.

Tak hanya itu, pada video itu, ada pula potongan testimoni dari Elizabeth Diana. "Mengampuni pelaku. Ketika saya melakukan hal itu, ada keikhlasan yang saya rasakan,"begitu kata Elisabeth.

Saat menyaksikan video itu, memang ada berbagai rasa berkecamuk. Arswendo mengaku kalau dirinya tidak bisa menerima alasan pembunuhan. "Makanya, saya menulis di kolom  saya dengan marah-marah," aku pria berambut gondrong itu.

Sama seperti Arswendo, Irwan Hidayat yang makin penasaran dengan pernyataan kedua orang tua almarhumah Ade Sara itu malahan memberanikan diri datang ke rumah duka di bilangan Jalan Layur, Rawamangun, Jakarta Timur. "Saya ingin berfoto dengan mereka yang bisa memaafkan,"tutur Irwan sembari menambahkan kalau ide membuat iklan layanan  masyarakat itu justru datang dari para jurnalis yang kebetulan berjumpa dengannya di rumah duka tersebut.

Irwan mengaku, keheranannya makin bertambah. Soalnya, dalam pengamatannya, ada 20 kasus pembunuhan yang terjadi selang setahun ke belakang. "Tapi, hanya satu kasus yang korbannya memaafkan pelaku. Ya kasus Ade Sara ini," katanya lagi.

Berangkat dari rasa itulah, Irwan mengaku ikut tertular berpikir positif. "Saya membuat iklan ini untuk melanjutkan ingatan masyarakat tentang nilai terbaik kalau nanti berita tentang Ade Sara  hilang di media massa," aku Irwan.

Secara tegas pula, Irwan mengatakan kalau Suroto dan Elizabeth Diana tidak ingin mendapat bayaran dari iklan layanan masyarakat tersebut. "Sebetulnya,  saya enggak kuat untuk melihat. Tapi, bukan berarti saya enggak mau melihat. Karena, kenangan itu pasti akan ada di dalam pikiran saya seumur hidup saya. Tapi, saya setuju iklan ini ditayangkan," demikian Elizabeth Diana menyampaikan pesannya.

Hingga Kompas.com mengunggah tulisan ini, iklan layanan masyarakat bertajuk "memaafkan" itu memang belum tayang di media massa. Walau, lebih banyak kata "setuju" ketimbang "tak setuju" saat diskusi rampung, malam itu.

Kompas.com/Robertus Belarminus Ade Sara Angelina Suroto (19), mahasiswa yang dibunuh mantan kekasihnya Ahmad Imam Al Hafitd (19). Mayat Ade dibuang di tol JORR ruas Bekasi, kilometer 41, Jawa Barat. Ahmad dibantu Assyifa Ramadhani (19), kekasih barunya.

http://edukasi.kompas.com/read/2014/03/20/1924449/Memaafkan.adalah.Keteladanan


Pembawa-Pembawa Cahaya

 

7ce8d6e663a6fe871bed136369adc230_bringers-of-light-28feb14 


Ketidakpastian cuaca di mana-mana, konflik di banyak tempat yang tidak menunjukkan tanda-tanda berakhir, korupsi yang menyedihkan, bunuh diri dan perceraian yang menaik terus, WHO bahkan meramalkan tahun 2020 sakit mental akan sangat mengkhawatirkan, semua ini menunjukkan tanda-tanda kegelapan yang mengkhawatirkan. Tanpa lahirnya pembawa-pembawa cahaya, masa depan akan sangat menyedihkan.

Rabu, 26 Maret 2014

Seleb


Gugat Cerai, Daus Mini Bantah Ada Orang Ketiga
 
 

Daus Mini dan istri, Yunita Lestari.

VIVAlife - Rumah tangga komedian bertubuh cilik, Daus Mini retak. Perceraiannya telah terdaftar di Pengadilan Agama Depok, 20 Maret 2014. Ditemui di Bogor, Sabtu, 29 Maret 2014 Daus dan Yunita Lestari istrinya menegaskan, masalah dalam keluarga mereka bukan orang ketiga.

“Jangan gampang percaya dan dikomporin. Ini hanya masalah keluarga saja. Susah dicari titik temunya,” kata Daus. Menurut Yunita, mereka sepakat berpisah secara baik-baik. Masalahnya sepele: ketidakcocokan.

Daus menjelaskan, antara dirinya dan Yunita sudah tak ada lagi kecocokan. Itu berpengaruh ke masalah komunikasi yang semakin renggang. Menurut Yunita, itu karena ia dan Daus sudah punya kesibukan masing-masing.

Karena cekcok yang terjadi terus-menerus, keduanya pun sepakat berpisah. “Kami sudah berusaha. Ini jadi introspeksi juga buat kami,” kata Daus. Saat ini, mereka masih tinggal serumah. Namun nanti, Yunita berbesar hati akan pergi bersama buah hati mereka.

Lega
Yang aneh, kalau kebanyakan pasangan bercerai dihantui perasaan sedih, Yunita justru merasa lega. Wanita asal Blitar, Jawa Timur itu merasa bebannya berkurang karena tak lagi harus mengurus suami. Tadinya, ia kerepotan.

“Alhamdulillah, lebih lega. Beban berkurang karena sudah bukan suami dan istri secara agama. Nggak ada alasan lagi buat ribut,” katanya. Hal senada diucapkan Daus. Di samping rasa sedihnya, ia juga mengaku lega karena baginya cerai adalah jalan terbaik. (eh)


• VIVAlife


Tempat wisata

Tempat Wisata di Manado Yang Wajib Anda Kunjungi

Berbicara mengenai tempat wisata di Manado, pasti anda langsung membayangkan keindahan Taman Laut Bunaken yang merupakan salah satu taman laut terindah di dunia. Namun, tahukah anda

Senin, 24 Maret 2014

Akhir penantian 2

 Kotak Hitam MH370 Mungkin Tak Akan Pernah Ditemukan


Pesawat Malaysia Airlines (Foto: ABC)  


Pesawat Malaysia Airlines MH370 dinyatakan jatuh di selatan Samudera Hindia. Namun kotak hitam masih belum ditemukan, banyak pengamat mengatakan kotak hitam itu tidak pernah ditemukan.

Pergerakan terakhir dari pesawat Boeing 777-200ER menunjukkan kondisi yang

Save Satinah

Bayar Diyat Rp21 M, Satinah Akhirnya Bebas dari Hukuman Pancung


Foto terkini Satinah yang diabadikan pada awal Februari 2014 di penjara kota Buraidah, Arab Saudi.
 

Alat eksekusi pancung tak jadi mengakhiri hidup seorang Satinah, tenaga kerja Indonesia (TKI) yang terbukti membunuh majikannya di Arab Saudi. Uang darah menyelamatkan nyawa TKI asal Ungaran Barat, Semarang, Jawa Tengah itu.

Uang darah atau diyat adalah kompensasi yang harus dibayar pelaku kejahatan yang masuk kategori "qisas," yaitu kejahatan terhadap hak manusia atau privat. Hukuman yang diberlakukan untuk tindak kejahatan ini adalah hukuman mati.

Nah, hukuman mati itu dapat dicabut, jika mendapat pemaafan dari ahli waris korban. Dan, ahli waris ini mendapatkan uang diyat tadi. 
Raja Arab Saudi awalnya menetapkan nilai uang diyat sebesar 500 ribu Riyal. Namun pada praktiknya, nilai tersebut berubah dan ditentukan sendiri oleh keluarga korban.

Praktik itu juga terjadi dalam kasus Satinah. Keluarga korban meminta uang darah dengan jumlah yang fantastis dibandingkan nilai yang ditentukan Raja Arab Saudi itu, yakni 7 juta Riyal atau sekitar Rp21,2 miliar. Sebetulnya, angka itupun sudah turun dari tuntutan semula, 14 juta Riyal.

"Kami sudah bersepakat untuk menutupi apa yang dituntut oleh pihak keluarga," kata Menteri Koordinator Hukum, Politik, dan Keamanan Djoko Suyanto dalam jumpa pers, Kamis 3 April 2014. Artinya, Pemerintah akan membayar Rp21 miliar itu.

Kemarin, perwakilan Pemerintah Indonesia bertemu dengan Gubernur Provinsi Qassim untuk menyampaikan komitmen tersebut karena penjara Satinah, Buraidah, ada di provinsi ini. Pemerintah berharap, tak ada lagi perubahan uang diyat dan proses penyelamatan Satinah dari pancung bisa segera dimulai.

Darimana Pemerintah mendapat uang sebanyak itu? Djoko menjawab, Pemerintah sebetulnya hanya menyiapkan 3 juta Riyal saja. Sisanya, 4 juta Riyal merupakan hasil urunan pengusaha dan donatur. "Insya Allah sekarang bisa kita selesaikan masalah saudari Satinah ini dengan baik," kata dia.

Untuk kepastian penyelesaian kasus ini, Kepala BNP2TKI yang juga ikut menangani dan memberi perkiraan waktu sekitar dua hari untuk perkembangan selanjutnya. Masih ada proses administrasi yang dilalui untuk benar-benar bisa membawa pulang Satinah dengan selamat. "Proses pengiriman uang ada proses administrasi ke bank," ucap pria yang juga pernah menjadi duta besar RI untuk Arab Saudi ini.
Jalan terjal meraih hidup
Arab Saudi, 16 Juni 2007. Kala itu, hari masih pagi saat Satinah bertengkar dengan majikannya bernama Nura Al Garib di dapur.

Pertengkaran itu bermula dari hal sepele sebetulnya bagi orang Indonesia, tapi masalah besar di Arab Saudi. Satinah berbicara dengan anak laki-laki Nura Al Garib.
Budaya Saudi memang tidak membolehkan perempuan dan laki-laki yang bukan muhrim berada dalam satu ruangan yang sama. Apalagi kalau sampai kedua orang yang bukan muhrim itu berbicara.

Nura kemudian memukul kepala Satinah menggunakan penggaris. Tak cukup dengan itu, kepala Satinah dibenturkan ke dinding.

Merasa nyawanya terancam, Satinah berusaha meraih benda apapun untuk membalas penganiyaan majikannya itu. Tangan Satinah berhasil meraih kayu penggilingan adonan roti. Tak tunggu lama, dia memukul Nura. Salah satu pukulan itu mengenai tengkuk Nura Al Garib.
Sang Majikan pingsan. Keluarga yang panik kemudian melarikan Nura ke rumah sakit. Namun, nyawa perempuan tua itu tak selamat setelah sempat koma. 

Satinah kabur. Rupanya, perempuan 41 tahun itu sempat meraih tas majikannya sebelum kabur. Ada uang di dalam tas senilai SR37.970 atau Rp122 juta. Hal ini makin memperburuk nasib Satinah.

Satinah kemudian menyerahkan diri ke kantor polisi setempat dan mengakui perbuatannya. Sejak saat itu Satinah berada di Penjara Gassem.

Kemudian, dalam persidangan syariah tingkat pertama pada 2009 sampai kasasi 2010, Satinah divonis hukuman mati atas tuduhan melakukan pembunuhan berencana pada majikan perempuannya.

Awalnya Satinah direncanakan dihukum mati Agustus 2011, namun ditunda. Menurut data dari Kementerian Luar Negeri, tenggat waktu eksekusi Satinah itu sudah ditunda lima kali, yakni pada Juli 2011, 23 Oktober 2011, Desember 2012, Juni 2013, dan Februari 2014.

Terakhir, tenggat waktu itu ditentukan 3 April 2014. Sepekan sebelum tenggat waktu ini berakhir, sejumlah kelompok masyarakat Indonesia menggalang dana untuk menebus uang diyat yang diminta keluarga Nura Al Garib, yakni Rp21,2 miliar.
TKI Satinah

Pemerintah juga melobi keluarga agar mau menurunkan uang diyat menjadi 3 juta Riyal atau sekitar Rp12 miliar. Rupanya, lobi ini tak sukses. Akhirnya, Pemerintah memastikan, akan membayar semua tuntutan keluarga Nura Al Garib.

Nasib 39 TKI lainnyaSatinah kini bisa bernafas lega. Nyawanya selamat. Namun, bagaimana dengan nasib 39 TKI lainnya yang juga terancam hukuman mati di negeri penghasil minyak bumi itu.
Berbagai kasus yang melilit 39 TKI di Arab Saudi, di antaranya membunuh majikan atau membunuh sesama TKI. Kementerian Luar Negeri mencatat, ada 48 TKI yang berhasil bebas dari hukuman mati, sejak 2011 hingga saat ini.
"Namun, masih ada 39 TKI yang terancam hukuman (mati)," kata Direktur Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia Kemlu Tatang Abdul Razak, 24 Maret lalu.

Menurut dia, pemerintah diwakili petugas Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di luar negeri berupaya maksimal untuk memberi bantuan hukum kepada WNI yang terancam hukuman penjara atau mati. Namun, Indonesia tetap menghormati hukum yang berlaku di negara tujuan.

Selain Satinah, ada TKI lain bernama Siti Zainab bernasib sama. TKI asal Madura yang bekerja di Arab Saudi itu tengah menanti hukuman pancung.

Siti Zainab terancam hukuman mati sejak 1999. Setelah hampir 15 tahun dipenjara, keluarga korban bersedia memaafkan Siti Zainab, asalkan ada uang diyat sebesar Rp90 miliar. Jumlah ini, jauh lebih besar dari nilai rata-rata diyat yang ditetapkan Arab Saudi yakni berkisar Rp1-2 miliar.

Masalah diyat ini menjadi persoalan tersendiri karena angkanya terus naik. Sementara, Pemerintah tidak wajib membantu TKI bersangkutan untuk membayarkan diyat itu. (eh)

http://fokus.news.viva.co.id/news/read/493913-bayar-diyat-rp21-m--satinah-akhirnya-bebas-dari-hukuman-pancung

Jelang Eksekusi Mati Satinah, PNS Semarang Kumpulkan Uang Diyat

Surat edaran sudah dikirim kepada seluruh kepala dinas di Semarang.


Aksi galang dana untuk Satinah


VIVAnews - Menjelang eksekusi Satinah, tenaga kerja wanita yang divonis hukuman mati, memancing sejumlah pihak yang peduli terhadap nasib Satinah. Setelah lima kali penundaan, dia akan dieksekusi pada 3 April 2014.

Meski berkejaran dengan waktu menghimpun kekurangan dana tebusan atau uang diyat yang diminta keluarga korban, para PNS di Pemerintah Kabupaten Semarang, diminta menyisihkan dana untuk menolong Satinah yang merupakan warga asal Kalisidi, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.

Sekretaris Daerah Pemerintah Kabupaten Semarang Budi Kristiono mengaku,  mencoba menggalang dana untuk Satinah dari seluruh PNS yang ada di lingkungan Pemerintah Kabupaten Semarang.

"Kami sudah membuat surat edaran, suratnya kami kirim ke semua kepala dinas. Dana yang terkumpul akan kami salurkan melalui rekening pemerintah provinsi," kata Budi, Selasa 25 Maret 2014.

Guna mengoptimalkan dana, Pemkab Semarang juga mengajak Asosiansi Pengusaha Indonesia (APINDO) di Kabupaten Semarang untuk turut dalam aksi penggalangan dana Satinah.

"Kami juga meminta agar Apindo mau turut serta menghimpun dana dari semua buruh yang ada di Kabupaten Semarang. Surat imbauan ke Apindo juga sudah dikirim kemarin. Apapun Satinah ini adalah saudara kita," kata Budi.

Berhitung mundur dalam tenggat waktu yang diberikan keluarga eks Majikan Satinah, TKW asal Dusun Mrunten, Desa Kalisidi, Ungaran Barat, Jawa Tengah, mempunyai waktu kurang dari sepuluh hari untuk lolos dari hukuman pancung.

Satinah sudah mendapatkan lima kali penundaan pelaksanaan eksekusi hukuman mati. Sesuai vonis pengadilan, Satinah dieksekusi Agustus 2011, lalu diundur pada Desember 2011, Desember 2012, Juni 2013, Februari 2014 dan 3 April 2014.

Menurut Wakil Menteri Luar Negeri Wardana, bila eksekusi terhadap Satinah jadi dilakukan, maka uang diyat yang telah ditransfer ke Pengadilan Buraidah sebesar Rp12,1 miliar akan dikembalikan. Dana itu akan digunakan untuk mendanai pendidikan putri semata wayang Satinah, Nur Afriana.

Wardana menambahkan, sejak awal dana yang diberikan para donatur telah diikhlaskan bagi keluarga Satinah.  "Untuk pendidikan putri Satinah," ungkap Wardana.

Kendati nasib Satinah kini berada di ujung tanduk, Wardana menambahkan, pemerintah tidak tinggal diam. Dia menyebut, pemerintah kini fokus pendekatan pada pihak keluarga korban.

"Pendekatan yang cukup intensif juga dilakukan kepada tokoh-tokoh yang ada di Saudi," imbuh Wardana.

Dia mengatakan kunci kasus ini, terletak kepada keluarga korban, apakah bersedia menerima uang diyat sebesar SR4 juta atau Rp12,1 miliar yang telah disediakan oleh Pemerintah RI atau tidak.

Direktur Perlindungan WNI dan BHI Kementerian Luar Negeri, Tatang Budie Utama Razak menambahkan, memenuhi nominal uang diyat sebesar SR7 juta atau Rp21,3 miliar, yang dituntut oleh pihak keluarga korban bukan hal yang sulit. Tetapi, permasalahannya, bukan masalah sanggup atau tidak sanggup mengumpulkan dana tersebut.

"Kita semua harus memikirkan rasa keadilan. Kami tidak bisa selalu mengambil dana dari APBN. Itu yang harus diperhatikan," katanya. (umi)


© VIVA.co.id

Minggu, 23 Maret 2014

Sebuah Keajaiban



Bocah 'Becak' Itu Akhirnya Bertemu Ibu Kandungnya


A bertemu Sugiati, ibu kandungnya.


VIVAnews - Setelah terpisah selama bertahun-tahun, A bocah 8 tahun yang merawat ayahnya di atas becak akhirnya bertemu dengan ibu kandungnya di Rumah Sakit Umum Daerah Pirngadi,  Minggu, 23 Maret 2014.

Sugiati, langsung memeluk erat putri kandungnya yang terpisah sejak tujuh tahun lalu. Raut penyesalan terpancar jelas dari wajah Sugiati yang berulang kali menciumi putri hasil perkawinannya dengan Nawawi Pulungan.

Keduanya juga langsung akrab, meski bertahun-tahun tidak bertemu. Mereka bahkan bermain dan makan bersama. Ibu kandung A sendiri langsung datang dari Pekanbaru, Riau, setelah menyaksikan tayangan televisi mengenai kondisi anaknya.

Nawawi Pulungan sendiri tidak ingin mempermasalahkan masa lalu, yang menyebabkan Sugiati meninggalkan dirinya dan anaknya. Saat ini yang terpenting dirinya sehat dan dapat kembali merawat anaknya itu.

"Saya ingin merawat Aisyah, yang lalu biarlah berlalu. Tapi itupun tergantung anak saya dan ayahnya," kata Sugianti.

Rencananya Sugianti akan kembali ke rumahnya di Pekanbaru beberapa hari lagi. Mengenai apakah anak kandungnya itu akan ikut atau tidak, belum diputuskan.

Keteguhan A yang merawat ayahnya di sebuah becak, menuai simpati dari berbagai kalangan yang banyak memberikan bantuan. 
 
 
 
 
 http://nasional.news.viva.co.id/news/read/490898-bocah--becak--itu-akhirnya-bertemu-ibu-kandungnya

Waspada !!

Ribuan Warga Kota Bekasi Terinfeksi Penyakit Kelamin

Sebagian dari mereka akan terancam HIV?

HIV
HIV
  Google+
VIVAnews - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bekasi mencatat sebanyak 1.400-an warga Kota Bekasi terindikasi menderita penyakit infeksi menular seksual (IMS) selama 2013 lalu.

"Data itu terpantau dari hasil kunjungan pasien di RSUD Kota Bekasi dan puluhan puskesmas," ungkap Kepala Seksi Pemberantasan dan Penanggulangan Penyakit (P2P), Bidang Penanggulangan Masalah Kesehatan (PMK), Dinkes Kota Bekasi, dr Reni Amalia.

Menurut Reni, ribuan penderita IMS itu terus dipantau perkembangan kesehatannya. Mereka membutuhkan waktu untuk pengobatan, karena  tidak cukup hanya satu kali kunjungan ke petugas medis.

Beberapa jenis penyakit IMS itu diantaranya syphilis (raja singa), gonorrhea (kencing nanah), klamidia, herpes simpleks, dan jengger ayam (condiloma akuminata).

Penderita biasanya mengalami gejala perih atau nyeri dan panas saat kencing, gatal di sekitar kelamin, keluar cairan berbeda dari biasanya dari kemaluan atau dubur, tumbuh kutil di sekitar kelamin, dan kantung pelir membengkak.

Jika dibiarkan tanpa pengobatan dan perubahan perilaku seksual, kata Reni, penderita IMS itu berpotensi juga akan terjangkit virus HIV. "Karena perilaku seksual yang tak terjaga, ujung-ujungnya nanti bisa kena HIV/AIDS juga," kata Reni.

Pada 2013 saja, tercatat sebanyak 401 warga Kota Bekasi yang sudah positif terjangkit virus HIV (Human Immunodeficiency Virus). Virus ini akan menyebabkan penurunan kekebalan tubuh bagi penderita yang terinfeksi.

Sementara jumlah penderita AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) pada 2013 tercatat 213 orang. AIDS adalah sekumpulan gejala penyakit yang timbul akibat turunnya kekebalan tubuh dalam melawan penyakit.

Catatan Dinkes Kota Bekasi, sejak 2004 lalu, terhitung sebanyak 4.213 kasus penyakit IMS, 2.762 kasus HIV, dan 902 kasus AIDS yang terdeteksi oleh petugas medis di RSUD dan belasan Puskesmas di Kota Bekasi.

Saat ini, layanan konseling dan pemeriksaan terkait HIV/AIDS dilakukan petugas medis di RSUD Kota Bekasi, RS Elisabeth, RS Ananda, serta 12 Puskesmas. Sedangkan layanan pengobatan HIV/AIDS hanya diberikan oleh RSUD Kota Bekasi, RS Elisabeth, dan RS Ananda.

Sabtu, 22 Maret 2014

Akhir penantian

Ditemukan Puing di Laut, Keluarga Penumpang MH370 Makin Hilang Asa

Minggu, 23 Maret 2014, 07:24 Rizky Sekar Afrisia
Keluarga penumpang MH370 tak kuasa menahan tangis membayangkan nasib kerabat mereka.
Keluarga penumpang MH370 tak kuasa menahan tangis membayangkan nasib kerabat mereka. ( REUTERS/Jason Lee)
  Google+
VIVAnews - Dua minggu terlewati, hilangnya pesawat Malaysia Airlines MH370 masih menyisakan misteri. Pencarian terus dilakukan, petunjuk dan teori baru terus dikemukakan. Namun keluarga penumpang pesawat mulai kehilangan harapan.

Apalagi saat mereka mendengar kabar terbaru soal pemerintah China yang merilis citra satelit adanya benda mengambang di Samudera Hindia. Panjang benda itu sekitar 74 meter, dan lebarnya 43 meter. Bagi keluarga penumpang, itu kabar buruk.

Mengutip laman ABC News, istri dan empat anak Patrick Gomes, kepala pelayan di MH370 langsung lemas begitu mendengar kabar yang seharusnya menggembirakan itu. Sebab, ketika ditemukan puing artinya pesawat jatuh ke laut dan hancur. Kabar itu mengakhiri seluruh harapan yang ada.

Kecil kemungkinan pesawat masih utuh dan para penumpang serta awak kabinnya selamat. “Mereka menyebut adanya pembajakan. Jika benar begitu, artinya ada harapan keluarga kami masih hidup dan akan kembali,” ujar Jacquita Gonzales, istri Patrick.

Harapan itu, meski kini begitu kecil, tetap ia jaga. Pada cucunya yang baru berusia 2 tahun, Rafael, Jacquita menyebut suaminya masih pergi bekerja. Ia bahkan memasang lilin di kamar Patrick agar jiwanya menemukan jalan pulang.

“Mungkin Tuhan masih punya rencana yang baik. Dia membutuhkan Patrick di sana, mungkin untuk memasak atau apa,” ungkapnya lirih.

Sementara itu, keluarga lain mulai berang lantaran pencarian MH370 tak kunjung membuahkan hasil positif. Beberapa hari lalu, beberapa wanita terpaksa harus diamankan ke ruang terpisah karena tak kuasa menahan emosi saat konferensi pers berlangsung. (adi)

Rabu, 19 Maret 2014

Ayo belajar main gitar

ALANIS MORISSETTE'S     UNINVITED
City of Angels Sountrack


Chords

repeat
-------------------------------------------|
------------------------------------O------|
-----------2------3-----2------------------|
-----0-------------------------------------|
------------------------------------O------|
-------------------------------------------|


D
Like anyone would be
               Gm                                D
I am flattered by your fascination with me
D
Like any hot blooded woman
               Gm                                 D
I have simply wanted an object to crave
      C                         G
But you you're not allowed
                D
You're uninvited
            Ddim    D
An unfortunate slight

D
Must be strangely exciting
                      Gm      D
To watch the stoic squirm
D
Must be somewhat hard telling
                          Gm             D
To watch them burn me shepherd
       C                      G
But you you're not allowed
             D
You're uninvited
              Ddim    D
An unfortunate slight

SOLO

D
Like any uncharted territory
      Gm                             D
I must seem greatly intriguing
D
You speak of my love like
                      Gm                         D
You have experienced like mine before
       C                 G
But this is not allowed
              D
You're uninvited
         Ddim         D
An unfortunate slight

-------------------------------------------|
------------------------------------O------|
-----------2------3-----2------------------|
-----0-------------------------------------|
------------------------------------O------|
-------------------------------------------|

D
I dont think you unworthy
                    Gm                 D
I need a moment to deliberate

transcribed by  marco

decipherthoughts@hotmail.com

Band Indonesia '90an

  Biografi Band Rock Indonesia Era 90an