Keinginan daging vs keinginan roh
Dalam setiap keseharian kita, tak dapat dihindari bahwa keinginan akan disetujui menjadi kebutuhan. Artinya apa yang menjadi keinginan selalu menjadi dalih kebutuhan. Hanya orang tertentu yang mampu membedakan antara mana keinginan dan mana kebutuhan. Yang saya tahu bahwa keinginan itu sifatnya sesaat. Tapi kebutuhan itu biasanya mendesak dan untuk jangka waktu lama. Contoh kebutuhan akan makan, apapun makanannya yang penting mengenyangkan dan layak dimakan. Berbeda dengan keinginan akan makan enak nan mewah. Tak peduli kantong bolong alias krisis uang sampai ngutang yang penting dapat makan mewah itu. Jelas ini berbeda antara keinginan dan kebutuhan.
Selanjutnya ada macam-macam keinginan maupun kebutuhan, tergantung apa yang hendak di pilih. Lalu bagaimana kalau ada keinginan daging ? Maksudnya keinginan yang pastinya memuaskan perasaan. Ini menurut saya sudah menggabungkan keduanya bahwa keinginan bisa menjadi kebutuhan atau sebaliknya. Jelaslah bahwa kita sebagai manusia tak lepas dari keinginan akan apa yang ada di dunia ini. Seorang bijak membahasakan ini sebagai keinginan daging.
Selanjutnya ada istilah lain yaitu keinginan roh. Maksudnya disini adalah bagaimana keinginan ini jika terpenuhi bisa memuaskan jiwa dan selalu terarah pada yang kuasa. Adapun keinginan ini bisa muncul ketika melihat kesusahan orang lain dan kita tergerak untuk menolongnya. Selanjutnya ada rasa bahagia karena dapat menolong mereka. Atau bisa juga keinginan itu muncul ketika kita selalu ingin mendekat pada Sang Sumber Hidup yaitu Tuhan. Tapi kata sang bijak, cukup sulit untuk dapat mewujudkan keinginan roh itu. Karena selalu terhalang oleh kerasnya ego kita masing-masing. Mungkin kita tidak mau disalahkan, atau lebih mudah memelihara kebencian dan dendam. Ini yang mesti menjadi titik akhir pertimbangan. Haruskah kita memilih dan memelihara kecenderungan seperti ini.
Lagi seorang bijak itu mengatakan bahwa keinginan roh dapat membawa kehidupan abadi. Dalam hal ini saya percaya ungkapan sang bijak itu. Sekarang adalah bagaimana untuk memulainya. Tapi saya yakin dengan tekad dan kepasrahan pada Sang Sumber Hidup, niscaya niat baik ini dapat terwujud.
(Minggu, 06 April 2014)
Kuat karena percaya
Sebenarnya aku sudah teramat lelah hari ini menjalani rutinitas. Namun sikap mengalah ternyata lebih kuat daripada melawan. Entahlah, ketika dihadapkan pada kenyataannya (job), aku justru merasa gembira. Anehnya itu tidak bertahan lama, karena sesudahnya aku malah menyesal karena kewalahan.Aku rela menghabiskan waktu liburku hari minggu ini demi rutinitas yang seakan tak bisa ditawar. Meski lelah aku tidak boleh kalah dengan perasaan dengki yang memang mudah merasuk. Menimbulkan pertentangan dalam batin dan akhirnya menyiksa.
Satu keyakinan, bahwa dengan melawan kedengkian ini, maka akan membawa energi positif. Oleh karena itu, kembali pada awal sikap mengalah yang membawa kegembiraan meski akhirnya menyesal. Aku percaya kata orang yang pernah mengatakan bahwa cinta membutuhkan pengorbanan. Begitu juga dengan kenyataan ini. Aku harus berani berkorban jika memang aku berani mengatakan cinta pada rutinitas ini. Bukankah pengorbanan yang hakiki adalah tanpa paksaan ? Bukankah cinta yang sejati adalah berani melepaskan ego ? Dalam hal ini aku tidaklah sendiri. Tapi ada Dia yang memang sudah merancang jalan hidup ini. Dan inilah yang menjadi kekuatan dan penting untuk terus menerus dihidupi agar rasa cinta itu tetap tumbuh meskipun kenyataan pahit tak dapat dihindari.
Nyatanya aku mampu melewati rutinitas hari ini dengan baik. Nyatanya aku dapat menikmati rutinitas ini yang mungkin bagi sebagian orang sungguh membosankan. Dalam hal ini aku bersyukur kepada Dia yang turut berkarya sehingga semuanya dapat berjalan dengan baik hari ini. Aku bersyukur karena dapat menyapa setiap orang yang aku jumpai hari ini. Bukan pertentangan tapi hanya berbagi kegembiraan sajalah kepada mereka, sehingga dapat membantu ku melewati hari ini. Terima kasih. Semoga karyaku hari ini dapat berkenan kepada Dia dan sesamaku.
(Minggu, 30 Maret 2014)
(Minggu, 30 Maret 2014)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar